Bertamu ke rumah Pak Soesilo Toer, Perpustakaan Pataba
Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa
Tepatnya pada September kemarin aku dan temanku ke Blora. Pak Soes adalah tokoh favoritku sejak dulu. Ingin sekali rasanya berjumpa dan mendengarkan pemikiran beliau. Awal mula aku mengenal Pak Soes, sapaan akrab beliau waktu di Forum Pecinta Buku (FPB) Pucakwangi. Diberi tahu oleh temanku yang pernah berkunjung ke sana sewaktu masih aktif di organisasi. Katanya beliau adalah adik sastrawan terkemuka di Indonesia yaitu Pramoedya Ananta Toer.
Wow itu adalah sastrawan favorit sekaligus wishlist buku impianku. Sayangnya meski berkunjung ke Blora, ke rumah masa kecil Pram tetap tak menemukan Tetralogi Buru. Masih jadi pertanyaanku kenapa buku-buku Pram jarang ditemukan versi originalnya. Kalaupun ada harganya lumayan mahal. Bahkan dulu buku anak semua bangsa sempat dilarang peredarannya.
Perpustakaan Pataba merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa yang diambil dari salah satu seri Tetralogi Buru. Dirintis oleh tiga bersaudara Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan hingga kini dirawat oleh Soesilo Toer. Hal tersebut menunjukan betapa hebatnya keluarga Toer dalam mendidik sehingga menghasilkan generasi sastrawan terkemuka.
Perjalanan dari rumah sekitar satu setengah jam. Sampai sana terlihat Pak Soes sedang beristirahat di teras rumah. Ingin ku urungkan niat berkunjung selain takut mengganggu juga kurang percaya diri. Namun temanku meyakinkan dengan mencoba memberi salam, gayung bersambut. Kami dipersilahkan masuk dan diterima dengan hangat.
Aku bersalaman ala pesantren, jongkok di bawah untuk menghormati yang lebih tua. Akan tetapi Pak Soes heran, menyuruhku bersalaman biasa saja. Di ruang tamu terdapat rak koleksi buku yang kebanyakan diterbitkan oleh Pataba Press. Ada buku koleksi pribadi dan buku yang bisa dibeli. Ada juga piagam serta lukisan yang memuat wajah Soesilo Toer. Sementara itu di bilik lain terdapat lebih banyak rak yang memuat koleksi buku-buku langka.
Hal pertama yang ditanyakan Pak Soes kepadaku adalah apakah aku islam tulen atau islam abangan. Melihat raut wajahku yang kebingungan dalam menjawab, Pak Soes menjelaskan bahwa dirinya termasuk islam abangan; sering melakukan kesalahan kecil seperti manusia pada umumnya.
Duduk bersama Pak Soes teramat mengesankan. Aku banyak belajar dari beliau. Mulai dari cara memandang hidup, menghadapi masalah, ilmu umum, sejarah, dan masih banyak lagi. Poin utama pesan Pak Sus kepada kami adalah agar hidup harus berani. Berani mengambil tindakan, berani mengambil resiko, dan berani terhadap perubahan. Menurut penuturan Pak Soes semasa muda pernah keliling dunia di saat teman-teman kuliahnya asyik menikmati liburan dengan menonton film biru. Banyak tempat dan pengalaman seru yang beliau pelajari selama di luar negeri selain kegiatan menulisnya.
Soesilo Toer merupakan seorang doktor lulusan Rusia. Namun karena beberapa hal mengakibatkan ijazahnya tidak diakui kala itu. Sehingga kini beliau memilih menjadi pemulung. Memulung dalam kacamata Pak Soes pekerjaan yang menciptakan nilai dari suatu barang yang dianggap tak bernilai.
Soesilo Toer merupakan contoh nyata bahwa dengan membaca dan menulis seseorang akan terus tumbuh, tajam ingatan, dan tetap muda di usia senja. Api semangat dalam dirinya terlihat ketika membicarakan sejarah bangsa Indonesia yang tidak banyak diketahui orang.
Tulisan ini dibuat setelah rampung membaca buku Dunia Samin. Buku rekomendasi dari penulisnya langsung buat yang suka baca fiksi seperti aku. Di dalamnya terdapat tiga bagian dengan tiga karakter dalam satu tokoh bernama Samin. Dalam obrolan Pak Soes sempat bercerita tentang Suku Samin. Membahas tentang kondisi ibu pertiwi saat ini, dan masih banyak lagi.
Karena hal indah perlu diabadikan maka kutulis pertemuan singkatku dengan Pak Soes.


0 Comments
Jangan melakukan spam, tak ada link dan bicara kotor.
Berkomentarlah dengan cerdas